15Mendengar pertanyaan Kael, Sherly menatap Kael dengan tajam, suaranya penuh keyakinan. “Aku tidak punya alasan untuk mempermainkan kalian. Aku hanya ingin satu hal—keluar dari tempat ini. Dan aku tahu satu-satunya cara untuk itu adalah dengan membantu kalian mendapatkan apa yang kalian inginkan dan menghancurkan orang-orang seperti Leena.”

Kane menatap Sherly untuk waktu yang lama sebelum akhirnya mengangguk. “Baik. Kau ikut dengan kami. Tapi ingat ini—jika kau mencoba mengkhianati kami, aku akan memastikan kau tidak pernah punya kesempatan untuk melakukannya lagi.”

Di keheningan malam itu, Kane berdiri di tengah perkemahan, memberi perintah kepada pasukannya untuk mempersiapkan senjata dan perlengkapan mereka.

“Kita akan segera berangkat ke perkampungan itu,” kata Kane dengan suara tegas. “Kita akan menemukan Leena. Dan jika dia mencoba melawan atau berbohong kepada kita, aku akan pastikan dia menyesali semua keputusannya dan menghancurkan dia bersama suku Sinto.”

"Komandan, apakah kamu yakin dengan kata-kata wanita itu? Aku merasa kurang percaya dengannya." Kata Kael berbisik kepada Kane.

"Saat ini kita tidak punya pilihan lain. Jika dia berani mempermainkan kita, akan kita buat dia sangat menyesali perbuatannya." Kata Kane dengan nada mengancam.

Sherly, yang berdiri di sudut perkemahan, tersenyum kecil. Kebenciannya terhadap Leena mulai menemukan jalan untuk terwujud. Dengan Kane dan pasukannya, dia akhirnya bisa melampiaskan dendamnya.

Namun, jauh di dalam hatinya, Sherly menyadari risikonya. Jika Kane mengetahui kebohongannya, atau jika rencananya gagal, dia tahu hidupnya akan berakhir dengan cepat. Tapi bagi Sherly, semua itu adalah harga yang pantas untuk menghancurkan Leena dan Suku Sinto.

“Leena…” bisiknya pada dirinya sendiri, menatap ke arah gelap hutan. “Aku akan pastikan kau kehilangan segalanya.”

***

Matahari tengah hari menyengat, tetapi Kane dan pasukannya terus maju tanpa ragu. Menurut perkiraan mereka, seharusnya sore hari akan tiba di tempat titik Milo berada, namun berkat petunjuk Sherly, mereka berhasil mencapai perkampungan Sinto lebih cepat tanpa memicu jebakan-jebakan yang telah dipasang di sekeliling hutan. Sementara di belakang mereka, diam-diam Ruvan mengikuti mereka dari kejauhan menanti kesempatan menangkap Sherly.

“Kita hampir sampai,” kata Sherly sambil melirik Kane. Wajahnya tampak puas meski ada sedikit kegugupan tersembunyi."Kalian lihat, berkat bantuan dariku, kalian tidak harus menghadapi jebakan-jebakan berbahaya yang sudah mereka persiapkan." Katanya sambil menunjuk sebuah jebakan.

Sherly yang tinggal bersama suku Sinto sejak awal mereka membangun tempat itu membuatnya mengetahui semua seluk beluk perkampungan hingga jebakan, juga dia mengetahui sebuah tempat rahasia yang akan digunakan suku Sinto untuk bersembunyi saat peperangan, termasuk juga jalan rahasia yang bisa menghindari para penjaga, namun dia tidak ingin memberitahu mereka. Sherly ingin mencari kesempatan untuk menjalankan rencananya.

“Kita lihat, apakah semua kata-katamu benar. Kami akan menghancurkan mereka semua jika mereka melawan.” Kata Valen dengan nada mengancam.

Sherly mengangguk. “Percayalah padaku. Mereka saat ini pasti sudah mengetahui kedatangan kita dan bersiap-siap menyerang kita. Aku tahu semua rahasia mereka.”

Kane menyipitkan matanya ke arah perkampungan di kejauhan. “Kalau begitu, kita pastikan mereka tidak sempat melihat lagi matahari esok.”

Selama perjalanan, Kane melihat berbagai jebakan yang berbahaya sudah disiapkan oleh penduduk asli. Meski belum percaya penuh terhadap Sherly, namun Kane tahu, dari cara bicara dan sikap Sherly, menunjukkan dia memiliki dendam terhadap perkampungan tersebut sehingga bersedia membantu mereka menemukan jalan aman.

Dari salah satu menara penjagaan, seorang pria muda dengan mata tajam memandang rombongan Kane mendekat. Mereka mengenakan pakaian aneh, hitam, dan tampak seperti sesuatu yang tidak pernah dilihat sebelumnya.

“Sherly…” gumamnya, terkejut melihat wanita itu berjalan dengan santai di antara orang-orang asing itu.

Tanpa membuang waktu, penjaga itu segera berlari menuju pondok utama untuk melapor. Maret, yang sedang memimpin diskusi dengan beberapa penjaga lain, langsung menegakkan tubuhnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Maret tegas.

“Ada sekelompok orang asing mendekat,” kata penjaga itu dengan napas terengah. “Mereka… mereka bersama Sherly.”

“Sherly?” Maret menyipitkan matanya, wajahnya berubah serius. “Itu mustahil. Sherly sudah mati.”

Penjaga itu menggeleng. “Tidak, Tuan. Saya melihatnya sendiri. Dia bersama mereka.”

Berita itu dengan cepat sampai ke Leena dan Karim, yang sedang memeriksa peralatan tempur baru dari bijih besi yang mereka buat. Leena segera berdiri, wajahnya tegang.

“Sherly masih hidup?” gumam Leena.

Karim, yang berdiri di dekatnya, mengepalkan tangan. “Dia pasti telah mengkhianati kita. Kalau tidak, bagaimana dia bisa bersama orang-orang asing itu?”

“Kita tidak bisa membuang waktu,” kata Leena tegas. “Kita harus ke perbatasan sekarang.”

Karim mengangguk, mengambil tombak yang terbuat dari bijih besi, lalu bergegas mengikuti Leena.

Sesaat sebelum Leena dan Karim tiba di perbatasan, situasinya sudah memanas. Para penjaga dan penduduk Suku Sinto telah bersiaga dengan senjata mereka, menghadapi pasukan Kane yang tampak lebih terorganisir dan bersenjata canggih.

"Apa yang mereka pegang? Mana senjata mereka?" Terdengar sebuah suara dari suku Sinto yang tidak mengenali senjata pasukan Kane.

“Tahan! Jangan tembak dulu!” perintah Kane kepada pasukannya, suaranya tetap tenang dan tegas. Dia sudah mengalami banyak pertempuran dan sudah pernah melawan penduduk asli saat tiba di pulau tersebut. Kane memperhatikan para penduduk yang hanya memegang senjata primitif seperti panah, tombak dan pedang. "Kali ini mereka memiliki senjata dari besi. Ingat, gunakan bom fragment untuk mengurangi jumlah mereka dan jangan buang-buang terlalu banyak bom kita. Sisakan untuk menyerang para makhluk-makhluk mutasi saat mereka muncul nanti.

Sherly melihat situasi ini dan langsung mendekati Kane. “Jika kalian tidak menyerang sekarang, kalian tidak akan mendapat kesempatan,” bisiknya tajam.

Kane memandang Sherly sejenak, mengakui perkataan Sherly, mereka harus menyerang sebelum mereka mengeluarkan makhluk mutasi, kemudian dia menggeram, “Mereka akan menyesal pernah melawan kita. Pasukan, serang!”

Bom fragment pertama dilemparkan, meledak di dekat barisan depan Suku Sinto. Ledakan itu menghancurkan beberapa penjaga, membuat tubuh mereka terpental ke udara. Jeritan mulai terdengar di mana-mana.

Leena, Karim, dan Maret tiba di perbatasan dengan waktu hampir bersamaan, tepat ketika bom kedua meledak, menyebabkan kekacauan di antara penduduk mereka. Karim segera menarik Leena ke belakang sebuah pohon untuk melindunginya.

“Apa yang mereka gunakan? Kita tidak mungkin bisa menang melawan mereka!” kata Karim, matanya melebar melihat senjata yang digunakan musuh.

Leena mengamati pakaian dan senjata mereka dengan cermat. “Mereka bukan dari dunia ini,” gumamnya, suaranya penuh kekaguman sekaligus ketakutan."Itu bom, dan mereka membawa senjata laser. Kita harus mundur!"

Maret menyela. “Apa pun asal mereka, kita harus menghentikan ini sebelum semua orang kita mati!”

Leena mengangguk. Dia keluar dari persembunyian, mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Berhenti! Kami menyerah!” teriaknya.

"Berhenti! Mundur semua!" Teriak Maret memberikan perintah kepada seluruh suku Sinto yang melawan.

"Turunkan senjata kalian! Jangan melawan!" Teriak Leena memberikan perintah.

Suara Leena yang lantang membuat pertempuran berhenti sejenak. Semua suku Sinto sangat mengenal Leena, sosok wanita yang tangguh, baik hati dan pasangan dari seseorang yang sangat mereka puja, Lynx. Para penjaga Suku Sinto yang masih hidup mulai menurunkan senjata mereka satu per satu. Kane, yang sedang mengawasi medan pertempuran, mengangkat tangan untuk menghentikan pasukannya.

Leena berjalan perlahan ke depan, tombak bijih besinya dia lemparkan ke tanah sebagai tanda menyerah. Karim dan Maret berdiri di belakangnya, siap melindunginya jika diperlukan.

"Kane, hati-hatilah, jangan sampai kita terjebak." Kata Freya mengingatkan.

"Kalian waspadalah dan pantau kondisi sekitar! Serang mereka segera jika terlihat ada gerakan mencurigakan!" perintah Kane kepada seluruh prajuritnya.

Kane maju beberapa langkah, menatap Leena dengan tatapan dingin. “Apakah kamu pemimpin di tempat ini?”

Leena menggelengkan kepalanya dengan tetap mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Bukan. Aku Leena. Aku salah satu penduduk suku ini."

Mata Leena menatap langsung ke arah Kane. “Aku tahu kalian bukan dari dunia ini. Kami tidak ingin bertarung dengan kalian. Jika kalian mencari sesuatu, kami akan membantu.”
